PRAKTIKUM EKONOMI SUMBERDAYA HUTAN
Laporan Praktikum Ekonomi Sumberdaya Hutan Medan, Mei 2021
PEMANFAATAN KOMODITI KEHUTANAN
UNTUK PRODUK KREATIF
Dosen Penanggungjawab :
Dr. Agus Purwoko, S.Hut, M.Si
Disusun oleh:
Lihardo Girsang 191201064
Humam Ubaidillah 191201073
Irma Amelia 191201088
Anggi Lubis 191201100
Naufal Habibi Dinata 191201194
Kelompok 2
HUT 4D
PROGRAM STUDI KEHUTANAN
FAKULTAS KEHUTANAN
UNIVERSITAS SUMATERA UTARA
MEDAN
2021
KATA PENGANTAR
Puji dan syukur penulis ucapkan kepada Tuhan Yang Maha Esa yang telah memberikan karunia-Nya sehingga penulis dapat menyelesaikan laporan ini dengan baik dan tepat waktu. Laporan Praktikum Ekonomi Sumberdaya Hutan yang berjudul “Pemanfaatan Komoditi Kehutanan Untuk Produk Kreatif” ini ditulis untuk melengkapi tugas Praktikum Ekonomi Sumberdaya Hutan dan sebagai syarat untuk mengikuti Praktikum Ekonomi Sumberdaya Hutan selanjutnya. Penulis megucapkan terimakasih kepada semua pihak, terutama kepada dosen penanggungjawab Dr. Agus Purwoko, S.Hut, M.Si. serta seluruh asisten Praktikum Ekonomi Sumberdaya Hutan sebagai pembimbing sekaligus informan yang dengan sabar telah meluangkan waktu untuk membimbing dan mengarahkan.
Penulis menyadari bahwa laporan Praktikum Ekonomi Sumberdaya Hutan ini masih banyak kesalahan dalam penulisan maupun percobaan. Oleh karena itu, penulis akan berusaha semaksimal mungkin untuk memperbaikinya. Penulis juga sangat mengharapkan kritik dan saran yang membangun dari para pembaca. Semoga laporan Praktikum Ekonomi Sumberdaya Hutan ini bisa memberikan manfaat bagi pembacanya.
Medan, Mei 2021
Penulis
DAFTAR ISI
Halaman
KATA PENGANTAR.............................................................................. i
DAFTAR ISI.............................................................................................. ii
DAFTAR GAMBAR................................................................................ iii
PENDAHULUAN
Latar Balakang........................................................................................ 1
Tujuan...................................................................................................... 2
TINJAUAN PUSTAKA........................................................................... 3
METODE PRAKTIKUM
Waktu dan Tempat.................................................................................. 6
Bahan dan Alat....................................................................................... 6
Prosedur Praktikum.................................................................................. 6
HASIL DAN PEMBAHASAN
Hasil........................................................................................................ 7
Pembahasan............................................................................................. 7
KESIMPULAN DAN SARAN
Kesimpulan.............................................................................................. 9
Saran........................................................................................................ 9DAFTAR PUSTAKA
DAFTAR GAMBAR
No Halaman
1. Hiasan dinding dari balok kayu pohon meranti (Shorea sp).................. 7
PENDAHULUAN
Latar belakang
Hutan adalah suatu kesatuan ekosistem berupa hamparan lahan berisi sumberdaya alam hayati yang didominasi pepohonan dalam persekutuan alam lingkungannya, yang satu dengan yang lainnya tidak dapat dipisahkan. Definisi lain menjelaskan bahwa hutan adalah areal yang cukup luas dengan tanah beserta segala isinya yang di dalamnya tumbuh berbagai jenis pohon bersama-sama organisme lain, nabati maupun hewani, yang secara keseluruhan merupakan persekutuan hidup yang mempunyai kemampuan untuk memberikan manfaat- manfaat lain secara lestari (Zulaifah, 2016).
Kayu merupakan salah satu jenis komoditi hasil hutan yang banyak dimanfaatkan oleh manusia untuk berbagai keperluan. Kerajinan kayu merupakan suatu karya dari ukiran kayu. Keberadaan kerajinan kayu di Bali saat ini tidak terlepas dari pengaruh modernisasi salah satunya ditransformasi pariwisata. Perkembangan kerajinan kayu di Bali dilihat dari aspek bentuk, jenis, maupun maknanya bagi masyarakat. Adapun jenis-jenis kerajinan kayu adalah patung animal, patung buddha, patung manusia, patung barong, patung siwa, meja, kursi, pintu, miror, frame dan masih banyak lagi. Jumlah industri dan kerajinan rumah tangga di Indonesia sangat banyak, salah satunya kerajinan kayu yang berpotensi ekspor sekitar 80 persen (Idayanti dan Dewi, 2015).
Pemanfaatan hasil hutan oleh masyarakat sekitar hutan perlu menjadi bahan pertimbangan bagi pemerintah pusat dan daerah dalam membuat kebijakan berkaitan dengan kehutanan. Konflik kehutanan yang sering terjadi belakangan ini disebabkan oleh karena pemerintah tidak mengikutsertakan masyarakat sekitar hutan dalam pengelolahan hutan. Masyarakat sekitar hutan adalah sekelompok orang yang masih memiliki dan mempertahankan peri kehidupan tradisoanal dari leluhurnya yang tiggal di daerah hutan yang didalamnya masih terdapat keanekaragaman biologi yang khas. Pemanfaatan hasil hutan sebagai sumber penghidupan bagi masyarakat sudah dilakukan semenjak dulu. Ketergantungan masyarakat terhadap hutan sangat besar. Mereka hidup dari hasil mengumpulkan hasil hutan seperti kayu bakar, madu, aren, bambu, rotan, membuka kebun coklat, kelapa, dan lain-lain (Asrianny, 2012).
Pemanfaatan hutan telah dijelaskan dalam UU No. 41 tahun 1999, tentang kehutanan, dimana kegiatan exploitasi hutan sudah menjadi larangan dunia international. Lebih lanjut dijelaskan dalam Undang-Undang ini pemanfaatan hutan yang boleh dilakukan hanyalah hutan produksi. Pada kenyataannya, pemanfaatan hutan produksi masih belum optimal. Hasil hutan yang menjadi target baru sampai pada bagaimana hutan tersebut mampu memproduksi kayu yang berkualitas dengan volume yang cukup tinggi, sehingga manfaat-manfaat lain secara ekologis serta jasa yang dapat diperoleh dari hutan belum sepenuhnya digali. Banyaknya kasus seperti penyerobotan lahan hutan, kebakaran hutan, illegal logging serta tindak perusakan hutan lainnya, merupakan suatu indikasi bahwa sebetulnya banyak pihak yang ingin mengambil manfaat dari keberadaan hutan tersebut (Slamet et al, 2014).
Arah dari pemanfaatan sumberdaya hutan diharapkan memberikan dampak positif bagi pengembangan kawasan hutan tersebut. Ini menunjukkan bahwa pengembangan kawasan hutan berkaitan dengan pengembangan wilayah. Pemanfaatan sumberdaya hutan untuk pengembangan kawasan hutan sejalan dengan tujuan pengembangan wilayah. Pemanfaatan komoditi hasil hutan tidak terlepas dari kebutuhan manusia akan produk desain. Akibat perkembangan pendidikan dan peningkatan intensitas interaksi sosial/ budaya antar individu dan antar kelompok masyarakat menuntut adanya perubahan-perubahan produk baru. Dari berbagai bentuk baru manusia akan merasa terpuaskan. Bentuk dapat dihasilkan dari kreativitas yaitu kemampuan untuk membuat kombinasi baru, berdasarkan data, informasi atau unsur-unsur yang ada (Alkadri, 2011).
Tujuan
Adapun tujuan dari Praktikum Ekonomi Sumberdaya Hutan yang berjudul “Pemanfaatan Komoditi Kehutanan Untuk Produk Kreatif” ini adalah agar mahasiswa dapat mengetahui apa saja jenis komoditi kehutanan yang ada serta mengetahui manfaat dari komoditi kehutanan serta dapat membuat atau mengolah produk berbahan komoditi kehutanan yang bernilai kreativitas tinggi.
TINJAUAN PUSTAKA
Ekonomi kreatif adalah kegiatan ekonomi yang memiliki bagian utama yaitu ide, gagasan sebagai kesatuan kreativitas yang memberikan nilai tambah. Dalam ekonomi kreatif, Peranan individu yang memiliki kreativitas jauh lebih penting dibandingkan dengan yang bekerja dengan menggunakan alat. Sektor ekonomi kreatif tidak dapat diabaikan. Menurut data hasil survei ekonomi kreatif, Indonesia memiliki kontribusi PDB ekonomi kreatif terbesar yaitu pada subsektor kuliner, fashion dan kriya. Besarnya peranan berbagai sektor ekonomi dalam memberikan nilai tambah tiap komoditas akan menentukan struktur ekonomi pada sebuah daerah. Struktur ekonomi tersebut kemudian terbentuk sebagai penggambaran dari besar pengaruh suatu sektor ekonomi atau bidang usaha pada suatu daerah (Nizar et al, 2016).
Hutan sebagai modal pembangunan nasional memiliki manfaat bagi kehidupan masyarakat baik dalam segi perekonomian, ekologi, sosial maupun budaya. Oleh karena itu, hutan perlu dikelola dengan baik sehingga dapat terjamin kelestariannya. Disamping melakukan analisis terhadap keunggulan komoditas, penting untuk memperhatikan kesesuaian biofisik lahan hutan produksi. Data biofisik yang dimaksud antara lain : luasan hutan, ketinggian dari permukaan air laut, jenis tanah, kondisi geologi, hidrologi curah hujan, topografi dan bentang alam lainnya (Taati, 2015).
Fokus dan prioritas pemanfaatan hasil hutan di Indonesia selama beberapa dasawarsa belakangan ini lebih di titik beratkan pada pola pemanfaatan kayu dan hasil hutan ikutan berskala komersial serta fokus yang terbatas. Domain komersial ditujukan pada daerah penghasil produk hutan yang melimpah seperti di Jawa, Kalimantan, dan Sumatera. Hal ini menyebabkan kajian dan fokus pengembangan hasil hutan pada umumnya didasarkan pada standar dan parameter yang bersifat komersial. Fakta empirik menunjukkan bahwa pemanfaatan hasil hutan non komersial pada masyarakat di pedesaan berskala rumah tangga berpengaruh terhadap kelestarian sumber daya hutan (Alkadri, 2011).
Pemanfaatan dan pengelolaan sumberdaya alam yang secara optimal, lestari dan berwawasan lingkungan sudah semestinya dilakukan. Keberadaan sumberdaya alam hayati yang berada di tengah-tengah masyarakat merupakan suatu fenomena yang kompleks. Pemanfaatannya yang sangat diperlukan dalam upaya pemenuhan kebutuhan hidup ataupun untuk proses dari produksi guna menghasilkan output dalam bentuk dan manfaat yang lain. Sumberdaya alam merupakan aset penting suatu negara dalam melaksanakan pembangunan, khususnya pembangunan di sektor ekonomi. Selain dipergunakan untuk memenuhi kebutuhan hidup manusia, sumberdaya alam juga memberikan kontribusi yang cukup besar bagi kesejahteraan suatu bangsa. Pemanfaatan tersebut terkadang tidak memperhatikan batas-batas kemampuan atau daya dukung lingkungan dalam proses regenerasi untuk keberlanjutan siklus hidupnya baik secara biologis, fisik, ekologis maupun secara ekonomis (Fakhri et al, 2010).
Dalam pemanfaatan komoditi kehutanan ini, untuk mengolah hasil hutan hingga menjadi suatu produk kreatif dibutuhkan kreativitas. Kreativitas adalah kemampuan untuk membuat kombinasi baru, berdasarkan data, informasi atau unsur-unsur yang ada. Kemampuan kreatifitas diharapkan mampu untuk membuat kombinasi baru, ketepatgunaan, dan mengelaborasikan suatu gagasan yang ada. Perkembangan pendidikan dan peningkatan intensitas interaksi sosial/budaya antar individu dan antar kelompok masyarakat menuntut adanya perubahan-perubahan produk baru. Dari berbagai bentuk baru manusia akan merasa terpuaskan. Bentuk dapat dihasilkan dari kreativitas. Kreativitas merupakan kualitas suatu produk yang dibuat atau respons yang dinilai kreatif oleh pengamat yang ahli (Sutarman, 2013).
Dalam dunia industri khususnya kerajinan terdapat bermacam-macam produk yang di hasilkan. Beberapa produk tersebut seperti perabotan rumah tangga, souvenir dan dekorasi ruangan. Seiring dengan perkembangan zaman, kreativitas desainer produk-produk tersebut berkembang dari sisi desain maupun ergonomis. Prinsip dasar kreativitas sama dengan inovasi, yaitu memberi nilai tambah pada benda-benda, cara kerja, cara hidup dan sebagainya agar senantiasa muncul produk baru yang lebih baik dari produk yang sudah ada sebelumnya. Semakin berkembangnya pengetahuan membuat para desainer maupun pengrajin kini telah berfikir selain bagaimana sisi ergonomis yang ditonjolkan namun juga pada sisi estetisnya (Priambada, 2017).
Sumberdaya alam merupakan aset penting suatu negara dalam melaksanakan pembangunan, khususnya pembangunan di sektor ekonomi. Pemanfaatan dan pengelolaan sumberdaya alam secara optimal, lestari dan berwawasan lingkungan sudah semestinya dilakukan. Keberadaan sumberdaya alam hayati di tengah-tengah masyarakat merupakan suatu fenomena yang kompleks. Pemanfaatannya sangat diperlukan dalam upaya pemenuhan kebutuhan hidup ataupun untuk proses produksi guna menghasilkan output dalam bentuk dan manfaat yang lain. Namun, pemanfaatan tersebut terkadang tidak memperhatikan batas-batas kemampuan atau daya dukung lingkungan dalam proses regenerasi untuk keberlanjutan siklus hidupnya baik secara biologis, fisik, ekologis maupun secara ekonomis. Diperlukan upaya pemanfaatan dan pengelolaan sumberdaya alam hayati secara optimal dan berwawasan lingkungan (Hiariey, 2010).
Dengan adanya pemanfaatan komoditi kehutanan ini, maka akan banyak sekali manfaat yang diperoleh. Sumber daya hutan berperan sebagai penggerak ekonomi dapat teridentifikasi daalam beberapa hal, yaitu: pertama, penyediaan devisa untuk membangun sektor lain yang membutuhkan teknologi dari luar negeri; kedua, penyediaan hutan dan lahan sebagai modal awal untuk pembangunan berbagai sektor, terutama untuk kegiatan perkebunan, industri dan sektor ekonomi lainnya; dan yang ketiga, peran kehutanan dalam pelayanan jasa lingkungan hidup dan lingkungan sosial masyarakat. Ketiga bentuk peranan tersebut berkaitan dengan peranan sumber daya hutan sebagai penggerak ekonomi yang sangat potensial (Jumiyanti, 2018).
Pemanfaatan komoditi hasil hutan di Indonesia terbilang cukup maksimal. Di Indonesia ada tiga macam industri kayu yang secara dominan mengkonsumsi kayu dalam jumlah relatif besar, yaitu penggergajian, vinir/kayu lapis, dan pulp/kertas. Kayu merupakan salah satu jenis komoditi hasil hutan yang banyak dimanfaatkan oleh manusia untuk berbagai keperluan, ditandai dengan banyaknya industri-industri kayu di Indonesia untuk pembuatan rumah tangga, souvenir dan dekorasi ruangan. Keberadaan dan peran industri hasil hutan utamanya kayu di Indonesia dewasa ini menghadapi tantangan yang cukup berat berkaitan dengan adanya ketimpangan antara kebutuhan bahan baku industri dengan kemampuan produksi kayu secara lestari (Sari, 2015).
METODE PRAKTIKUM
Waktu dan Tempat
Praktikum Ekonomi Sumberdaya Hutan yang berjudul “Pemanfaatan Komoditi Kehutanan Untuk Produk Kreatif” ini dilaksanakan pada hari Jum’at, 30 April 2021 pada pukul 10.00 WIB sampai dengan selesai. Praktikum ini dilaksanakan secara online melalui aplikasi google meet.
Alat dan Bahan
Alat yang di gunakan pada praktikum ini untuk pembuatan kerajinan tangan untuk hiasan dinding dari kayu pohon meranti adalah gergaji, palu, kuas, dan kertas pasir.
Sedangkan bahan yang digunakan sebagai bahan utama adalah balok kayu pohon meranti (Shorea sp), penjepit kertas, paku, cat/vernis, serta beberapa kertas note untuk ditempelkan.
Prosedur
Prosedur pembuatan kerajinan tangan untuk hiasan dinding dari kayu pohon meranti ini adalah sebagai berikut :
1. Siapkan alat dan bahan.
2. Potong balok kayu meranti sesuai dengan ukuran yang dibutuhkan dan amplas dengan menggunakan kertas pasir.
3. Rangkai balok kayu yang sudah di amplas sesuai dengan bentuk hiasan dinding yang akan dibuat dan paku rangkain tersebut.
4. Paku terus hingga menghasilkan bentuk yang di inginkan.
5. Apabila telah terbentuk, vernis kerajinan tersebut agar terlihat lebih menarik.
6. Jemur kerajinan, dan tunggu sampai vernis mengering.
7. Kerajinan dari balok kayu pohon meranti berupa hiasan dinding ini sudah bisa digunakan, dapat kita gunakan untuk menempelkan sesuatu, seperti note atau kata kata motivasi.
HASIL DAN PEMBAHASAN
Hasil
Adapun hasil dari Praktikum Ekonomi Sumberdaya Hutan yang berjudul “Pemanfaatan Komoditi Kehutanan Untuk Produk Kreatif” dari balok kayu pohon meranti (Shorea sp) adalah produk atau kerajinan berupa hiasan dinding sebagai berikut :
|
Gambar 1. Hiasan dinding dari balok kayu pohon meranti (Shorea sp) |
Pembahasan
Pada praktikum Ekonomi Sumberdaya Hutan yang berjudul “Pemanfaatan Komoditi Kehutanan Untuk Produk Kreatif” dari balok kayu pohon meranti (Shorea sp) dihasilkan kerajinan berupa hiasan dinding. Kegiatan dalam kehutanan adalah kegiatan pengelolaan dan pemanfaatan hutan. Hasil hutan dimanfaatkan untuk berbagai aspek kehidupan, selain itu hasil hutan juga merupakan komoditas perdagangan yang menjanjikan, yang dimanfaatkan untuk memenuhi kebutuhan dalam negeri dan ekspor. Komoditi kehutanan di Indonesia terbagai menjadi hasil hutan kayu dan hasil hutan non kayu. Hasil hutan kayu, seperti : kayu jati (Tectona grandis), kayu ulin (Eusideroxylon zwageri), kayu agathis (Agathis alba), kayu meranti (Shorea sp), dan lain-lain. Hasil hutan non kayu, seperti : rotan, damar, kapur barus, terpentin, bambu, sutra alam, minyak kayu putih, madu, dan lain-lain.
Salah satu contoh kerajinan dengan memanfaatkan komoditi kehutanan adalah hiasan dinding yang menggunakan balok kayu meranti (Shorea sp)sebagai bahan utamanya. Kerajinan hiasan dinding ini dibuat dengan menggunakan kayu meranti karena kayu meranti merupakan jenis kayu yang populer dan paling komersial khususnya di wilayah Asia Tenggara. Umumnya kayu ini digunakan sebagai bahan baku pembuatan konstruksi bangunan maupun bahan dasar furniture. Kayu meranti dikenal juga sebagai kayu anti rayap, dan kayu meranti ini dikenali dari permukaannya yang berwarna merah, kayu meranti juga awet dapat tahan sekitar 10-15 tahun. Dan dengan pemanfaatan kayu meranti ini menjadi produk kerajinan hiasan dinding, diharapkan dapat memberikan nilai ekonomis dan nilai estetis.
Dalam dunia industri khususnya kerajinan yang berasal dari kayu, terdapat bermacam-macam produk yang dihasilkan. Beberapa produk tersebut seperti perabotan rumah tangga, souvenir, dan dekorasi ruangan. Dan dengan perkembangan zaman, produk yang dihasilkan makin kreatif. Hal ini sesuai dengan pernyataan Priambada (2017) yang menyatakan bahwa seiring dengan perkembangan zaman, kreativitas desainer produk-produk tersebut berkembang dari sisi desain maupun ergonomis. Prinsip dasar kreativitas sama dengan inovasi, yaitu memberi nilai tambah pada benda-benda, cara kerja, cara hidup dan sebagainya agar senantiasa muncul produk baru yang lebih baik dari produk yang sudah ada sebelumnya. Semakin berkembangnya pengetahuan membuat para desainer maupun pengerajin kini telah berfikir selain sisi ergonomis yang ditonjolkan namun juga pada sisi estetisnya.
Dengan adanya pemanfaatan komoditi kehutanan ini, akan diperoleh banyak manfaat, diantaranya untuk memenuhi kebutuhan dalam negeri, produk yang dibuat dapat menghasilkan nilai ekonomis, meningkatkan kreativitas, dan dapat membuka lapangan pekerjaan, dan lain-lain. Hal ini sesuai dengan pernyataan Hiariey (2010) yang menyatakan bahwa pemanfaatan komoditi kehutanan sangat diperlukan dalam upaya pemenuhan kebutuhan hidup ataupun untuk proses produksi guna menghasilkan output dalam bentuk dan manfaat yang lain. Jadi, komoditi kehutanan yang ada perlu untuk kita manfaatkan dengan sebaik mungkin, baik hasil hutan kayu, maupun hasil hutan non kayu.
KESIMPULAN DAN SARAN
Kesimpulan
1. Ekonomi kreatif adalah kegiatan ekonomi yang memiliki bagian utama yaitu ide, gagasan sebagai kesatuan kreativitas yang memberikan nilai tambah.
2. Dalam pemanfaatan komoditi kehutanan ini, untuk mengolah hasil hutan hingga menjadi suatu produk kreatif dibutuhkan kreativitas. Kreativitas adalah kemampuan untuk membuat kombinasi baru, berdasarkan data, informasi atau unsur-unsur yang ada.
3. Dalam UU No. 41 tahun 1999, tentang kehutanan, dijelaskan bahwa pemanfaatan hutan yang boleh dilakukan hanyalah hutan produksi.
4. Komoditi kehutanan di Indonesia terbagai menjadi hasil hutan kayu dan hasil hutan non kayu. Hasil hutan kayu, seperti : kayu jati (Tectona grandis), kayu ulin (Eusideroxylon zwageri), kayu agathis (Agathis alba), kayu meranti (Shorea sp), dan lain-lain. Hasil hutan non kayu, seperti : rotan, damar, kapur barus, terpentin, bambu, sutra alam, minyak kayu putih, madu, dan lain-lain.
5. Salah satu contoh kerajinan dengan memanfaatkan komoditi kehutanan adalah hiasan dinding yang menggunakan balok kayu meranti (Shorea sp) yang mana kayu ini sering digunakan sebagai bahan baku pembuatan konstruksi bangunan maupun bahan dasar furniture.
Saran
Sebaiknya, dalam praktikum Ekonomi Sumberdaya Hutan berjudul “Pemanfaatan Komoditi Kehutanan Untuk Produk Kreatif” ini, praktikan diharapkan lebih giat lagi mencari referensi sebagai sumber bahan bacaan. Dan diharapkan praktikan lebih kreatif lagi dalam pembuatan produk dari komoditi kehutanan yang ada.
DAFTAR PUSTAKA
Alkadri. 2011. Tiga Pilar dalam Pengembangan Wilayah : Sumberdaya Alam, Sumberdaya Manusia. Teknologi BPPT : Jakarta.
Asrianny. 2012. Pemanfaatan Sumberdaya Hutan di Hutan Lindung Kencamatan Alu Kabupaten Polman Propinsi Sulawesi Barat. Jurnal Perennial. 8(2) : 93-98.
Fakhri, Haji G, Syafruddin. 2010. Pemanfaatan Sisa Potongan Kayu Olahan Untuk Produk Papan Lantai Komposit. Jurnal Aptek. 3(1) : 12-25.
Hiariey, L. 2010. Identifikasi Nilai Ekonomi Ekosistem Hutan Mangrove di Desa Tawiri, Ambon. Jurnal Organisasi dan Manajemen. 4(1) : 10-15.
Hilmanto, R. 2010. Optimalisasi Harga Komoditi Agroforestri Untuk Meningkatkan Pendapatan Petani. 84-91.
Idayanti, F, Dewi, P M. 2015. Analisis Faktor-Faktor Produksi Domestik Yang Mempengaruhi Ekspor Kerajinan Kayu Di Kecamatan Ubud Kabupaten Gianyar. E-Jurnal Ep Unud. 5(1) : 195-215.
Jumiyanti, K R. 2018. Analisis Location Quoetient Dalam Penentuan Sektor Basis Dan Non Basis di Kabupaten Gorontalo, Gorontalo Development. 29-43.
Nizar, M Malik A, Wahid A. 2016. Studi Komposisi Dan Potensi Vegetasi Hutan Produksi di Wilayah KPHP Model Dampelas Tinombo Desa Lembah Mukti Kecamatan Dampelas Kabupaten Donggala. Jurnal Warta Rimba. 4 (1) : 65-73.
Priambada, Kevin. 2017. Pemanfaatan Limbah Kayu Palet Dalam Penciptaan Hiasan Terarium. Yogyakarta.
Sari, R. 2015. Penelitian Kualitas Kayu Untuk Kerajinan Meubel Dengan Metode AHP. 6(8) : 103-107.
Slamet, E, Sumanto, Mariana Takandjandji. 2014. Identifikasi Pemanfaatan Hasil Hutan Oleh Mayarakat : Upaya Konservasi Sumberdaya Genetik Dan Sosial Budaya. Jurnal Plasma Nutfah. 20(1).
Sutarman, W. 2013. Pemanfaatan Limbah Industri Pengolahan Kayu Di Kota Denpasar. Bali. Jurnal Pasti. 10(1) : 15-22.
Taati, L. 2015. Analisis Komposisi dan Potensi Hutan Produksi di Wilayah Kesatuan Pengelolaan Hutan (KPH) Dampelas Tinombo Kecamatan Dampelas Kabupaten Donggala. E-Jurnal Katalogis. 3(11) : 203-216.
Zulaifah. 2016. Pemanfaatan Sumberdaya Hutan Bersama Masyarakat Untuk Pengembangan Kawasan Hutan Regaloh Di Kabupaten Pati, Jawa Tengah. Tesis Program Pascasarjana Magister Teknik Pembangunan Wilayah Dan Kota. Universitas Diponegoro : Semarang.
|
|
Komentar
Posting Komentar