PRAKTIKUM EKONOMI SUMBERDAYA HUTAN

 

Laporan Praktikum Ekonomi Sumberdaya Hutan                                                                                       Medan,    Maret 2021

                                      

MENANAM POHON BERNILAI EKONOMIS TINGGI

 

Dosen Penanggungjawab :

Dr. Agus Purwoko, S.Hut, M.Si

Disusun oleh :

Lihardo Girsang                     191201064                            

         Humam Ubaidillah                191201073

          Irma Amelia                           191201088

         Anggi Lubis                            191201100

         Naufal Habibi Dinata            191201194

 

Kelompok 2

HUT 4D

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

PROGRAM STUDI KEHUTANAN

FAKULTAS KEHUTANAN

UNIVERSITAS SUMATERA UTARA

MEDAN

2021
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 

KATA PENGANTAR

Puji dan syukur penulis ucapkan kepada Tuhan Yang Maha Esa yang telah memberikan karunia-Nya sehingga penulis dapat menyelesaikan laporan ini dengan baik dan tepat waktu. Laporan Praktikum Ekonomi Sumberdaya Hutan yang berjudul “Menanam Pohon Bernilai Ekonomis Tinggi” ini ditulis untuk melengkapi tugas Praktikum Ekonomi Sumberdaya Hutan dan sebagai syarat untuk mengikuti Praktikum Ekonomi Sumberdaya Hutan selanjutnya. Penulis megucapkan terimakasih kepada semua pihak, terutama kepada dosen penanggungjawab Dr. Agus Purwoko, S.Hut, M.Si. serta seluruh asisten Praktikum Ekonomi Sumberdaya Hutan sebagai pembimbing sekaligus informan yang dengan sabar telah meluangkan waktu untuk membimbing dan mengarahkan.

Penulis menyadari bahwa laporan Praktikum Ekonomi Sumberdaya Hutan ini masih banyak kesalahan dalam penulisan maupun percobaan. Oleh karena itu, penulis akan berusaha semaksimal mungkin untuk memperbaikinya. Penulis juga sangat mengharapkan kritik dan saran yang membangun dari para pembaca. Semoga laporan Praktikum Ekonomi Sumberdaya Hutan ini bisa memberikan manfaat bagi pembacanya.

 

 

 

Medan,   Maret 2021

 

 

 

                                        Penulis

 

 

 

i

  

                                                 DAFTAR ISI

Halaman

KATA PENGANTAR..............................................................................  i

DAFTAR ISI..............................................................................................ii

PENDAHULUAN

Latar Balakang........................................................................................   1

Tujuan......................................................................................................   2

TINJAUAN PUSTAKA........................................................................... 3

METODE PRAKTIKUM

Waktu dan Tempat..................................................................................   6

 Bahan dan Alat.......................................................................................  6

HASIL DAN PEMBAHASAN

Hasil........................................................................................................   7

Pembahasan.............................................................................................   7

KESIMPULAN DAN SARAN

Kesimpulan..............................................................................................   9

Saran........................................................................................................   9

DAFTAR PUSTAKA

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

ii

 

PENDAHULUAN

Latar Belakang

Manusia telah memanfaatkan tumbuhan untuk memenuhi kebutuhannya sejak ribuan tahun yang lalu. Untuk memudahkan komunikasi pemanfaatan tumbuhan maupun untuk tujuan lainnya maka kelompok masyarakat membuat nama jenis/spesies tumbuhan.Tumbuhan merupakan salah satu mahkluk hidup yang terdapat di alam semesta. Selain itu tumbuhan adalah mahkluk hidup yang memiliki daun, batang,dan akar sehingga mampu menghasilkan makanan sendiri dengan menggunakan klorofil untuk menjalani proses fotosintesis. Bahan makanan yang dihasilkannya tidak hanya dimanfaatkan untuk dirinya sendiri, tetapi juga untuk manusia dan hewan. Bukan makanan saja yang dihasilkannya, tetapi tumbuhan juga dapat menghasilkan Oksigen (O2) dan mengubah Karbondioksida (CO2) yang dihasilkan oleh manusia dan hewan menjadi Oksigen (O2) yang dapat digunakan oleh mahkluk hidup lain (Silalahi, 2016).

Hutan mempunyai manfaat penting bagi kehidupan, yaitu adanya hasil hutan berupa kayu dan non kayu. Hasil Hutan Bukan Kayu (HHBK) merupakan sumber daya alam yang sangat melimpah di Indonesia dan memiliki prospek yang sangat baik untuk dikembangkan. Hasil Hutan Bukan Kayu memiliki nilai yang jauh lebih ekonomis dibandingkan dengan nilai kayu yang sampai saat ini masih dianggap sebagai produk utama. Hasil Hutan Bukan Kayu penting untuk kelestarian sebab proses panen biasanya dapat dilakukan secara lestari dan tanpa kerusakan hutan (Sadono, 2018).

Di dalam hutan, pohon yang dominan atau yang berukuran lebih besar memiliki kecepatan lebih dalam persaingan untuk menyerap dan mengambil sumberdaya dari pada pohon non-dominan. Kekuatan pohon untuk bersaing memperebutkan sumberdayal ingkungan diasumsikan sama dengan ukuran pohon tersebut. Pohon yang mempunyai ukuran lebih besar (dominan), tajuk yang luas dan akar yang lebih banyak diduga lebih mampu memperebutkan faktor lingkungan seperti cahaya, unsur hara, dan air. Pohon dominan dan non-dominan merupakan komponen penting dari tegakan hutan tanaman seumur, sehingga diperlukan informasi tentang pertumbuhan dan perkembangannya karena pohon dominan merupakan penghasil kayu bernilai ekonomis tinggi (Mampi, 2018).


           Begitu pentingnya peranan tumbuhan bagi kelangsunggan hidup dan juga bumi ini. Karena tumbuhan merupakan produsen pertama pada rantai makanan, selain itu juga memiliki peranan penting sebagai penghasil Oksigen (O2) terbesar bagi kelangsungan hidup mahkluk hidup di bumi serta menangani krisis lingkungan. Selain itu di dalam hutan terdapat tumbuhan yang memiliki nilai ekonomis yang tinggi dan bisa dimanfaatkan oleh masyarakat. Pohon yang bernilai ekonomis tinggi adalah pohon yang dapat dimanfaatkan seluruh organ atau sebagian seperti akar, batang, daun dapat dimanfaatkan sebagai penunjang kehidupan baik untuk dijual maupun digunakan secara langsung. Pohon yang mempunyai nilai ekonomis tinggi biasanya merupakan tumbuhan yang tumbuh di hutan, kemudian di budidayakan oleh masyarakat seperti pohon pinus dan kemenyan (Jayusman, 2017).

Peranan sumberdaya hutan sebagai penghasil devisa sangat penting untuk perbaikan ekonomi makro dan perdagangan global. Peranan hasil hutan selalu lebih tinggi untuk menghasilkan devisa, terutama pada negara yang baru berkembang dan berbasis pada sumberdaya, karena hutan pada awal perkembangan ekonomi suatu negara sangat mudah dipanen (biaya eksploitasinya rendah. Meskipun berada terjadi penurunan kinerja untuk industri kehutanan tertentu, secara umum sektor kehutanan periode sepuluh tahun terakhir (1995 – 2004) telah berhasil memberikan kontribusi signifikan bagi perolehan devisa. Produk hasil hutan , baik berupa kayu maupun bukan kayu, adalah merupakan bahan baku industri, yang mendorong berkembangnya industri dan jasa (pengangkutan dan pemasaran) (Alam et al, 2017).

 

Tujuan

Adapun tujuan dari praktikum Ekonomi Sumber Daya Hutan yang berjudul “Menanam Pohon Bernilai Ekonomis Tinggi” adalah untuk mengetahui arti tanaman bernilai ekonomis tinggi, mengetahui ciri-ciri tanaman bernilai ekonomis tinggi serta mengetahui jenis-jenis tanaman bernilai ekonomis tinggi.

 

TINJAUAN PUSTAKA

Pinus merupakan tanaman yang dapat digunakan untuk reboisasi, karena pinus memiliki beberapa fungsi, di antaranya sebagai tanaman pelindung tanah secara ekologis dan sebagai penghasil kayu. Selain itu, pinus juga memiliki daya kompetitif yang besar terhadap tumbuhan lain di sekitarnya sehingga mampu bersaing. Pinus merkusii memiliki saluran resin yang dapat menghasilkan suatu metabolit sekunder bersifat. Alelokimia pada resin tersebut termasuk pada kelompok senyawa terpenoid, yaitu monoterpen α-pinene dan β-pinene. Senyawa ini diketahui bersifat toksik baik terhadap serangga maupun tumbuhan. Selain itu, senyawa tersebut merupakan bahan utama pada pembuatan terpentin. Monoterpen (C–10) merupakan minyak tumbuh juga bersifat racun (Tarigan, 2015).

Beberapa kajian ekologis pada daerah pertumbuhan pohon pinus menunjukkan tidak ada pertumbuhan tanaman herba, yang diduga karenaserasah daun pinus yang terdapat pada tanah mengeluarkan zat alelopati yang menghambat pertumbuhan herba. Hal tersebut diperkuat dengan penelitian terhadap kemampuan daun pinus yang belum terdegradasi yang dapat menurunkan pertumbuhan panjang radikula kecambah sawi. Hal tersebut menunjukkan bahwa kandungan senyawa pada daun Pinus merkusii mempunyai potensi sebagai bahan bioherbisida untuk mengontrol pertumbuhan gulma yang dapat menganggu pertumbuhan produksi tanaman pangan antara lain tanaman padi. Salah satu gulma yang mengganggu pertumbuhan tanaman padi adalah E. colonum dan A. viridis (Rahayu, 2016).

Getah pinus dapat diperoleh melalui pelukaan atau penyadapan. Getah pinus mampu menghasilkan manfaat berupa gondorukem dan terpentin. Kegunaan dari gondorukem adalah sebagai bahan vernis, bahan pembuat sabun, bahan pembuat batik, bahan solder, tinta printer, cat dan lain-lain. Terpentin bisa digunakan sebagai bahan pengencer cat dan vernis, bahan pelarut lilin dan bahan pembuatan kamper sintesis. menyatakan ada tiga sistem penyadapan yang digunakan dalam menyadap getah pinus: 1. Sistem koakan (quarre system) 2. Sistem bor 3. Sistem amerika (ritser system) (Salatta, 2016).

Sistem koakan ini berasal dari Perancis dan merupakan cara penyadapan yang paling sederhana diantara sistem lainnya. Selama ini metode quarre atau yang dikenal dengan metode koakan merupakan metode yang paling sering digunakan untuk menyadap getah pinus. Adapun kelebihan metode ini adalah mudah dan murah dalam proses pelaksanaannya. Dari segi ekonomi P. merkusii mampu menjadi sumber komoditi perdagangan yang menguntungkan, cukup banyak menyerap tenaga kerja setempat dan penghasil bahan industri. Aspek sosial sebagai dampak langsung dari manfaat ekonomi dari hutan pinus yang dimanfaatkan secara baik dapat memperbaiki penghidupan masyarakat disekitarnya (Rahayu, 2016).

Secara ekologis P. merkusii merupakan jenis kayu yang mampu membentuk penutupan vegetasi permanen bersama jenis-jenis tumbuhan lain, sehingga fungsi hidrologi dan konservasi tanah dapat tercapai. Beberapa keuntungan yang didapatkan dari tanaman P. merkusii antara lain : 1. Pertumbuhan relatif cepat bila dibandingkan dengan jenis lainnya. 2. Tidak memerlukan tempat tumbuh dengan syarat-syarat tertentu, dan dapat tumbuh mulai 200 – 2000 m dpl. 3. Perakaran cukup kuat dan cukup dalam hingga dapat mencegah atau mengurangi bahaya erosi pada tanah-tanah kritis. Tanaman ini pada awalnya digunakan sebagai tanaman reboisasi dan penghijauan karena pertumbuhannya yang cepat serta merupakan jenis tanaman pionir (Lee, 2019).

Kemenyan (Styrax spp.) merupakan salah satu tanaman andalan Sumatera Utara yang cukup potensial untuk dikembangkan. Jenis ini memiliki nilai ekonomis yang tinggi sebagai bahan baku kosmetika dan bahan pengikat parfum agar keharumannya tidak cepat hilang. Kemenyan berguna pula sebagai bahan pengawet dan bahan baku farmasi/obat-obatan, juga dapat dipakai sebagai bahan campuran dalam pembuatan keramik agar lebih kuat dan tidak mudah pecah. Bahkan di negara-negara Eropa kemenyan digunakan sebagai bahan campuran pada pemanas ruangan. Negara-negara tujuan ekspor kemenyan saat ini antara lain India, Singapura, Hongkong dan Malaysia. Perkembangan budidaya kemenyan sampai saat ini belum optimal yang ditandai oleh tidak adanya perbaikan pola budidaya maupun pemungutan getahnya (Dany,  2016).

Kemenyan (Styrax spp) merupakan pohon penghasil getah bernilai ekonomis cukup tinggi dan salah satu tanaman andalan Provinsi Sumatera Utara. Getah dari pohon ini dimanfaatkan sebagai bahan baku kosmetika dan bahan pengikat parfum agar keharumanya tidak cepat hilang, juga sebagai bahan pengawetan, bahan baku farmasi atau obat-obatan dan sebagai bahan campuran dalam pembuatan keramik agar lebih kuat dan tidak mudah pecah. Kemenyan sangat erat hubungannya dengan masyarakat batak khususnya di daerah Tapanuli. Hal ini disebabkan produk berupa getah harum yang bernama kemenyan atau dalam bahasa Batak disebut haminjo merupakan salah satu primadona komoditi hasil hutan non kayu (HHNK) nabati yang masuk dalam kelompok resin sesuai dengan Peraturan Menteri Kehutanan Nomor P.35/Menhut/2007 tentang Hasil Hutan Bukan Kayu (Pandiangan, 2017).

Pohon ini menghasilkan getah beraroma spesifik yang diperoleh melalui penyadapan. Getahnya menjadi bahan baku istimewa industri parfum dunia. Di Indonesia getah kemenyan dijadikan pula sebagai penyedap rasa, bau rokok, serta dupa, juga sebagai alat bantu ritual tertentu. Selain itu juga digunakan sebagai bahan baku farmasi dengan nilai ekonomis cukup tinggi. Kandungan getah kemenyan antara lain terdiri dari Asam Sinamat (C6H5CH-CHOOH), Asam benzoat, Styrol, Vanillin (C8H8O3), Styracin, Coniferil benzoate, Coniferil sinamate, Resin benzoeresinol dan suma resinotannol. Asam Sinamat adalah bahan penolong pada pembuatan berbagai bahan kimia pada pembuatan obat-obatan (pharmasi), parfum, kosmetik, makanan dan minuman (Jayusman, 2017).

Tradisi religi masih sering menggunakan getah kemenyan, terutama pada upacara-upacara untuk mendapatkan aroma dupa yang baik. Di pulau Jawa sering dicampur dengan kayu cendana pada saat pembakarannya. Di timur Tengah penggunaan getah kemenyan sebagai dupa yang sempurna dengan mencampur dengan getah Murh (minyak). Penggunaan getah untuk bahan pencampur pada tembakau rokok, sampai saat ini masih dilakukan, karena masih banyak yang berpendapat kemenyan mampu memperbaiki pernafasan, namun seiring perkembangan waktu penggunaan campuran untuk tembakau rokok sudah semakin banyak ditinggalkan (Damayanti et all, 2017).

 

METODE  PRAKTIKUM

Waktu dan Tempat

            Praktikum Ekonomi Sumberdaya Hutan yang berjudul “Menanam Pohon Bernilai Ekonomis Tinggi” ini dilaksanakan pada hari Jum’at, 19 Maret 2021 pada pukul 10.00 WIB sampai dengan selesai. Praktikum ini dilaksanakan secara online melalui aplikasi WhatsApp dan google meet.

 

Alat dan Bahan

            Alat yang di gunakan pada praktikum ini adalah aplikasi microsof word, Microsoft power point, buku, dan jurnal sebagai bahan referensi pembuatan laporan.

Sedangkan bahan yang digunakan adalah pohon Kemenyan (Styrax spp.) dan pohon Pinus (Pinus merkusii).

HASIL DAN PEMBAHASAN

Hasil

Adapun hasil yang diperoleh dari Praktikum Ekonomi Sumberdaya Hutan yang berjudul “Menanam Pohon Bernilai Ekonomis Tinggi” ini adalah bahwa terdapat pohon - pohon dengan nilai ekonomis yang tinggi seperti Kemenyan (Styrax spp.) dan Pinus (Pinus merkusii).

 

Pembahasan

            Tumbuhan  pinus (Pinus merkusii) atau tusam adalah tumbuhan populer berperan penting di Indonesia untuk diambil kayu atau getah. Pinus termasuk kayu kelas kuat V dan kelas awet IV. Pinus dimanfaatkan masyarakat  maupun diperjualbelikan bahkan diekspor untuk bahan furnitur (meubel), terkadang digunakan bahan bangunan. Pinus berstatus rawan (vulnerable) berdasarkan IUCN red list. Hal ini sesuai dengan pernyataan Martawijaya et al. (2015) yang menyatakan bahwa pinus adalah tanaman tropis di kawasan Malesiana dan banyak dijumpai di wilayah Asia Tenggara. Di Indonesia pinus   terdapatdi Aceh, Sumatera Utara, Sumatera Barat dan seluruh Jawa. Di alam pinus tumbuh diketinggian 400-1.500 meter  dari permukaan laut (dpl), namun dilaporkan juga di daerahrendah  (± 90 m dpl), dan pegunungan (± 2.000  m dpl).

   Pinus atau tusam (Pinus merkusii) merupakan salah satu hasil hutan andalan yang dikelola dan akan menghasilkan nilai ekonomis yang tinggi apabila dikelola dengan benar dan akan memberikan manfaat yang sangat banyak untuk manusia dan lingkungan. Batang pohon pinus dapat disadap karena mengandung getah dan getah ini dapatdiproses untuk menghasilkan gondorukem dan terpentin. Gondorukem dimanfaatkan lagi untuk bahan pembentukan sabun resin dan cat, sedangkan terpentin biasanya digunakan untuk industry parfum, obat - obatan dan desinfetktan. Hasil kayunya dapat dimanfaatkan sebagai bahan kontruksi bangunan, bahan pembuatan korek api, dan kertas serat rajang.

            Bagian kulit pohon pinus dapat dijadikan sebagai bahan bakar, dan abunya dapat dijadikan sebagai bahan campuran pembuatan pupuk karena mengandung kalium. Manfaat daun pinus , antara lain : daun dari pohon pinus diolah menjadi minyak atsiri dan dapat digunakan untuk aromaterapi, meredakan peradangan, mengatasi infeksi dan luka pada kulit, daun pinus juga dapat dibuat menjadi teh daun pinus, yang bermanfaat untuk menjaga kesehatan jantung, menangani masalah pernapasan, membantu menurunkan berat badan,serta bermanfaat dalam menyehatkan mata serta Daun pinus memiliki kandungan vitamin A dan Vitamin C lima kali lebih banyak daripada jeruk sehingga efektif untuk mengobati flu dan demam.

            Produksi kemenyan baik secara kuantitas maupun kualitas masih rendah. Hal ini diakibatkan kurangnya minat petani untuk meningkatkan mutu dan sistem pengelolaan yang masih tradisional. Padahal, jika ditinjau dari segi banyaknya manfaat, komoditi ini layak dilirik untuk dikembangkan dan akan menghasilkan nilai ekonomis yang sangat tinggi. Pemanfaatan hasil utama budidaya pohon Kemenyan adalah produksi getah kemenyan, produksi kayu, dan pemanfaatan untuk tujuan lain. Beberapa manfaat kemenyan diantaranya : Tradisi religi masih sering menggunakan getah Kemenyan, terutama pada upacara – upacara untuk mendapatkan aroma dupa yang baik. Penggunaan getah untuk bahan pencampur pada tembakau rokok, sampai saat ini masih dilakukan, karena masih banyak yang berpendapat kemenyan mampu memperbaiki pernafasan.

Asam sinamat pada kemenyan berfungsi untuk pembuatan berbagai bahan kimia pada pembuatan obat-obatan (farmasi), parfum, kosmetik, makanan dan minuman. Getah kemenyan juga dapat membantu dalam pembuatan parfum, kosmetik, dan lilin. Kayu pohon kemenyan umumnya banyak digunakan untuk pembuatan papan rumah dan perkakas rumah tangga. Daun kemenyan : mengandung senyawa kimia yang memiliki potensi dalam bidang farmasi untuk obat kanker, dapat mencegah sakit perut, melawan bau mulut, obat batuk, serta obat sakit gigi.

Dengan adanya sumberdaya hutan yang bernilai ekonomis tinggi ini, maka akan sangat membantu dalam mengembangkan perekonomian. hasil hutan memberi dukungan modal bagi pembangunan infrastruktur industri dalam negeri dan untuk penyediaan teknologi yang berasal dari impor. hasil hutan memberi dukungan modal bagi pembangunan infrastruktur industri dalam negeri dan untuk penyediaan teknologi yang berasal dari impor.

 

 

KESIMPULAN DAN SARAN

Kesimpulan

  1. Pohon yang bernilai ekonomis tinggi adalah pohon yang dapat dimanfaatkan seluruh organ atau sebagian seperti akar, batang, daun dapat dimanfaatkan sebagai penunjang kehidupan baik untuk dijual maupun digunakan secara langsung. 
  2.  Pohon yang mempunyai nilai ekonomis tinggi biasanya merupakan tumbuhan yang tumbuh di hutan 
  3. Terdapat pohon - pohon dengan nilai ekonomis yang tinggi seperti Kemenyan (Styrax spp.), Pinus (Pinus merkusii), Kayu manis (Cinnamomum verum), Damar (Agathis dammara), Jati (Tectona grandis), Gaharu (Aquilaria malaccensis), Kapas (Gossypium hirsutum), Mahoni (Swietenia mahagoni),  Cengkeh (Syzygium aromaticum), dan lain – lain.  
  4. Batang pohon pinus dapat disadap karena mengandung getah dan getah ini dapatdiproses untuk menghasilkan gondorukem dan terpentin. Gondorukem dimanfaatkan lagi untuk bahan pembentukan sabun resin dan cat, sedangkan terpentin biasanya digunakan untuk industry parfum, obat - obatan dan desinfetktan. 
  5. Asam sinamat pada kemenyan berfungsi untuk pembuatan berbagai bahan kimia pada pembuatan obat-obatan (pharmasi), parfum, kosmetik, makanan dan minuman. Getah kemenyan juga dapat membantu dalam pembuatan parfum, kosmetik, dan lilin.
  6. Produk hasil hutan , baik berupa kayu maupun bukan kayu, adalah merupakan bahan baku industri, yang mendorong berkembangnya industri dan jasa (pengangkutan dan pemasaran).

 

Saran

            Sebaiknya dalam Praktikum Ekonomi Sumberdaya Hutan ini, praktikan lebih giat lagi mencari dan memahami referensi – referensi yang ada, mengingat praktikum dilaksanakan secara online.

 

 

 

DAFTAR PUSTAKA

Alam, Syamsu, Supratman, Muhammad Alif KS. 2017. Ekonomi Sumberdaya Hutan. Laboratorium Kebijakan dan Kewirausahaan Kehutanan Fakultas Kehutanan. Universitas Hasanuddin.

Damayanti, R.,Y.I Mandang. Totok K., Waluyo. 2017. Struktur Anatomi dan Kualitas Serat Batang Kemenyan (Styrax spp.) dari Sumatera Utara. Jurnal Penelitian Hasil Hutan 25 (3) :273-290.

Dany,Ahmad S. 2016. Pemanfaatan Sistem Informasi Geografis Untuk Penyusunan Peta Kesesuaian Jenis Kemenyan (Styrax Spp.) Di Sumatera Utara. Balai Penelitian Kehutanan Aek Nauli. Simalungun.

Jayusman. 2017. Mengenal Pohon Kemenyan (Styrax spp) Jenis Dengan Spektrum Pemanfaatan Luas Yang Belum Dioptimalkan. IPB PRESS. Jakarta.

Lee, T.H. 2019. Planning Multiple Cropping Diversification for Agriculture Development, Some Suggestion for Developing Countries. In Reading Asian Farm Management, Singapore University Press. Pp.55-56.

Mampi, B. 2018. Produksi Getah Pinus (Pinus Merkusii Jung Et De Vriese) Pada Berbagai Diameter Batang Menggunakan Sistem Koakan Di Desa Namo Kecamatan Kulawi Kabupaten Sigi. Jurnal Warta Rimba 6(3) : 42-48.

Pandiangan, D. 2017. Potensi Dan Pemanfaatan Hasil Hutan Bukan Kayu Jenis Kemenyan (Studi Kasus: Hutan Batang Toru Blok Barat Kecamatan Adiankoting, Kabupaten Tapanuli Utara. Fakultas Pertanian. Universitas Sumatera Utara. Medan.

Rahayu N, Mutaqin T. 2016. Kajian Konsentrasi Larutan Effektive Mikroorganisme-4 (EM4) dan Macam Media Tanam Terhadap Pertumbuhan Semai Pinus (Pinus merkusii Jungh et de. Vriese). Jurnal Gamma Vol. 7 No. 2.

Sadono, R. 2018. Prediksi Lebartajuk Pohon Dominan Pada Pertanaman Jati Asal Kebunbenih Klon Di Kesatuan Pemangkuan Hutan Ngawi, Jawa timur. Jurnal ilmu kehutanan 12(2018) : 127-141.

Salatta, M.K. 2016. Pinus (Pinus merkusii Jungh et de Vriese) dan Keberadaannya Di Kabupaten Tana  Toraja, Sulawesi Selatan. Info Teknis EBONI Vol. 10 No. 2.

Silalahi, M. 2016. Pengetahuan Mahasiswa Terhadap Keanekaragaman Tumbuhan di Lingkungan Kampus. Jurnal Biologi 9(1) : 19-24

Tarigan E. 2015. Penggunaan Stimulansia Etrat Pada Penyadapan Getah Pinus merkusii, Pinus oocarpa, dan Pinus Insularis Di Hutan Pendidikan Gunung Walat. Skripsi. Departemen Manajemen Hutan Fakultas kehutanan, Institut Pertanian Bogor.

 

 

 


 

 


 

 

 

 




Komentar

Postingan populer dari blog ini

Praktikum Ekonomi Sumberdaya Hutan

PRAKTIKUM EKONOMI SUMBERDAYA HUTAN

PEMANFAATAN EKONOMI SUMBERDAYA HUTAN DARI BAMBU DI KECAMATAN SAJIRA